26 Juli 2007

Empat Nasehat Liao Fan (21)

Lalu mengapa ada orang yang berbuat baik, tetapi keluarga dan keturunannya
malah hidup menderita, di lain pihak, orang yang selalu banyak membuat
kejahatan mendapat kehidupan baik, mana hukum sebab akibatnya?
Apakah tidak ada standarnya dalam ajaran Buddha?

Guru Jung Feng berkata : "Manusia umumnya buta oleh kejadian sehari-hari,
mereka tidak membersihkan pikiran mereka dari hal-hal yang tidak baik dan
salah persepsi, karena itu perbuatan yang baik dianggap salah dan yang salah
dianggap betul, ini sudah umum pada zaman sekarang. Lagi pula, orang-orang
ini tidak menyalahi diri atas kesalahan persepsi ini, malah menyalahi Yang
Kuasa tidak adil atas nasibnya yang jelek ini!"

Murid kedua berkata : "yang baik adalah baik dan yang jelek adalah jelek,
bagaimana mereka dapat salah menafsir?" setelah mendengar ini, guru Jung
Feng meminta mereka masing-masing mengeluarkan pendapat masing-masing
tentang apa yang baik dan apa yang salah.

Murid ketiga berkata : "Memarahi dan memukul orang lain adalah salah,
menghormati orang lain adalah baik".
Guru menjawab : "Belum tentu".

Murid keempat berkata : "Tamak dan mengambil uang orang lain adalah salah,
mengalah adalah benar".
Guru menjawab : "Belum tentu".

Murid-murid lain semua mengatakan ini adalah benar, itu adalah salah, akan
tetapi guru selalu menjawab : "Belum tentu". Lalu murid-murid bertanya :
"Apa yang dianggap baik dan yang salah?"

Guru Jung Feng menjawab : "Berbuat sesuatu untuk kepentingan orang lain
adalah baik, untuk kepentingan diri sendiri adalah salah. Bila kita berbuat
sesuatu untuk kepentingan orang lain, tidak masalah bila kita memarahi atau
memukul orang tersebut, ini adalah tetap dianggap baik. Bila tujuan kita
adalah untuk kepentingan diri sendiri, tidak peduli bagaimana kita bersikap
mengalah atau sopan santun, tetap dianggap salah".

Karena itu, bila kita berbuat sesuatu hanya untuk kepentingan orang lain,
orang banyak, ini adalah kebajikan sejati. Bilamana berbuat sesuatu hanya
untuk kepentingan diri sendiri, ini adalah kebajikan palsu.

Bila kebajikan tersebut benar-benar bersumber dari hati nurani kita, ini
adalah kebajikan sejati, bila kita berbuat kebaikan hanya karena ini adalah
baik, maka dianggap kebajikan palsu. Sebagai tambahan, bila kita berbuat
kebaikan tanpa mengharapkan balasan, ini adalah kebajikan sejati, kita
berbuat baik untuk tujuan tertentu diri sendiri, ini adalah kebajikan palsu.
Orang yang ingin mempraktekkan kebajikan perlu merenungkan perbedaan ini.

Apa yang dimaksud kebajikan lurus dan miring. Kita sering menganggap orang
yang ramah adalah orang baik, tetapi orang bijak dan orang suci menganggap
orang yang berani berbuat dan bercita-cita tinggi adalah orang baik.

Ini karena orang berani berbuat dan bercita-cita tinggi mudah dididik dan
dibimbing dan mungkin kelak akan berhasil meraih cita-citanya dengan
cemerlang. Sedangkan orang yang terlalu hati-hati dan kaku tidak dapat
berbuat sesuatu yang cemerlang.

Untuk orang yang selalu bertindak kaku dan terlalu hati-hati, mungkin mereka
selalu disenangi semua orang, tetapi karena kepribadiannya yang lemah,
mereka sangat mudah terbawa arus, tidak dapat berbuat apa-apa. Orang suci
selalu berkata bahwa orang jenis ini adalah pencuri kebajikan. Dari sudut
pandang ini, kita dapat melihat bahwa pandangan orang suci adalah sangat
berbeda dengan orang awam.

Apa yang dianggap baik oleh orang awam, orang suci menganggap tidak baik,
apa yang dianggap tidak baik oleh orang awam, orang suci menganggapnya baik.

Langit, Bumi, Dewa/Dewi, Malaikat mempunyai pandangan yang sama dengan orang
suci. Orang baik diberi berkah, orang jahat dihukum. Apapun tanggapan orang
suci bahwa suatu hal ini baik, mereka juga beranggapan demikian, mereka
tidak menilai sesuatu dari segi pandangan orang awam. Karena itu, seseorang
yang ingin mengumpulkan kebajikan jangan tertipu dan terpengaruh oleh hanya
untuk memenuhi dan menyesuaikan pandangan dan kebiasaan-kebiasaan umum
manusia di masyarakat.
Sebaliknya, mereka harus melatih diri agar selalu jujur dan rendah hati,
tidak hanya ingin mencari nama atau menyenangkan orang dengan tujuan
mendapat simpati. Seseorang harus selalu berusaha mempertahankan kemurnian
hatinya jangan sampai terjadi penyimpangan.

Kebajikan lurus berasal dari keinginan yang selalu hendak menolong orang
lain. Kebajikan miring timbul atas kerakusan untuk menyenangkan orang lain
untuk mendapat simpati dan selalu berpura-pura. Memberikan kasih sayang
kepada orang lain adalah kebajikan lurus. Iri hati, kemarahan adalah
kebajikan miring. Kebajikan lurus adalah bila seseorang bersikap sopan,
kebajikan miring adalah bila seseorang bersikap tidak tulus.

Message #20021 of 57519

Empat Nasehat Liao Fan (20)


CONTOH nyata lain adalah seorang yang bernama Li Chi dari propinsi Jian Shu, ayahnya adalah seorang pegawai di pengadilan propinsi. Suatu ketika, ayah Li mengetahui bahwa ada seorang tawanan dihukum mati, dia berusaha memohon keringanan hukuman untuk tawanan ini.

Ketika tawanan ini mengetahui usaha ayah Li untuknya, dia berkata kepada istrinya : "Saya begitu berhutang budi kepada orang ini, tetapi saya tidak ada cara untuk membalasnya, maukah anda mengundangnya ke rumah dan menikahinya? Mungkin hal ini akan menyenangkannya dan kesempatan saya untuk hidup lebih besar lagi".

Istri tawanan tersebut menangis dan mendengarkan permintaan suaminya, dia tidak ingin melakukannya, tetapi hanya cara inilah dia dapat menolong suaminya pada saat ini. Karena itu, pada saat ayah Li datang berkunjung ke rumahnya pada hari berikutnya, dia menawarkan minuman arak dan menyampaikan keinginan suaminya.

Ayah Li menolak tawarannya untuk menikah, tetapi tetap berusaha keras menjernihkan kasus tersebut. Akhirnya tawanan tersebut dibebaskan, dia bersama istrinya datang ke rumah ayah Li untuk berterima kasih dan berkata : "Kebajikan yang seperti anda lakukan ini adalah sangat sulit ditemukan pada zaman ini, bagaimana saya membalas budi anda? Anda tidak mempunyai anak laki-laki, bagaimana kalau anda menikahi putri saya, hanya inilah cara saya membalas budi anda, terimalah!"

Ayah Li menerimanya dan segera pasangan ini melahirkan seorang anak laki-laki dan diberi nama Li Zhi. Li lulus ujian negara tingkat tinggi pada saat dia hanya berumur dua puluh tahun. Anak Li yang bernama Gao, cucu dari Lu dan cicitnya Da Wun semua lulus ujian negara level tinggi dan diangkat sebagai pejabat pemerintah.

Sepuluh contoh di atas semua menceritakan kebajikan yang berbeda dan dilakukan orang yang berbeda pula. Walaupun perbuatannya berbeda, tetapi tujuannya sama yaitu "berbuat baik". Bila kita lebih mendalam meneliti kebajikan, kita akan menemukan banyak perbedaan.

Ada kebajikan yang sejati dan palsu, kebajikan yang lurus dan kebajikan yang miring, kebajikan yang tersembunyi (Yin) dan kebajikan yang terbuka (Yang), yang benar dan salah, yang tegak atau yang condong, yang penuh atau setengah penuh, yang besar atau yang kecil, yang mudah dan yang sulit.

Perbedaan jenis-jenis kebajikan ini masing-masing mempunyai peraturannya tersendiri yang harus benar-benar dipelajari dan dimengerti. Jikalau tidak, kadang kala kita mengira telah berbuat kebaikan, tetapi sebaliknya kita malah berbuat kesalahan. Sekarang saya akan menjelaskan perbedaan jenis-jenis kebajikan tersebut satu persatu.

Apa yang disebut kebajikan sejati dan palsu? Pada zaman dinasti Yuan, sekumpulan pelajar mengunjungi guru besar Jung Feng di Gunung Tianmu, satu murid berkata : "Buddha selalu mengajarkan hukum karma, yang baik dan buruk adalah ibarat bayangan badan, akan mengikuti kemana saja kita pergi".

Ini menjelaskan bahwa perbuatan baik selalu mengundang keberuntungan dan berbuat jahat selalu mengundang bencana.

Imlek di Kawasan Glodok Jakarta



Pintu Naga Emas Terbuka, Pintu Toko Tertutup

Oleh : Syahran Rasuna

Berdasarkan penanggalan Tionghoa, setelah pukul 00.00 nanti malam, pintu gerbang Tahun Naga Emas telah terbuka. Dan gerbang Naga Emas ini akan tertutup pada pukul 00.00 setelah 3 Februari 2001. Itu berarti, sesuai dengan siklusnya yang hanya 60 tahun sekali, Tahun Naga Emas baru akan terjadi lagi pada tahun 2060. Masih lama sekali.

JIKA gerbang pintu Naga Emas dinihari nanti terbuka lebar, pintu-pintu toko di sebagian besar kawasan Glodok seperti Pinangsia, Pancoran, Mangga Dua, Sawah Besar, Gajahmada dan wilayah Pecinan lainnya, Sabtu besok justeru tutup. Pertokoan di kawasan ini baru buka normal kembali pada hari Senin. ''Kalau masih ada yang buka, paling-paling hanya setengah hari. Itu pun hanya melayani order dan bukan transanksi langsung yang bersifat umum,'' kata A Kiong, seorang pedagang di Gloria, Pancoran.

Kenapa mesti tutup? Jawabannya adalah perayaan Imlek. ''Biasa, seperti Anda yang Lebaran pada 1 Syawal. Imlek merupakan hari raya besar bagi kami,'' tutur Han, seorang pedagang lainnya di bilangan Petak Sembilan, masih di Pancoran. ''Buka toko pada hari raya Imlek bawa sial,'' tambah A Cun, pria Tionghoa berusia lanjut ketika saya temui di bilangan Pintu Kecil.

Menurut A Cun, Han dan juga A Kiong, mereka mengambil libur dua hari. Maksudnya, toko mereka baru buka hari Senin. Ketiga pria yang mengaku lahir dan besar di kawasan Jakarta Kota ini yakin, sebagian besar toko milik keturunan Tionghoa di wilayah Jakarta Kota ini akan tutup. Kalau toh buka, hanya separuh hari dan hanya untuk pelanggan-pelanggan tertentu yang pada hari sebelumnya tak sempat dilayani. Misalnya seperti pengepakan atau pengiriman barang. Apalagi, menurut A Cun, Imlek kali ini berbeda dengan Imlek-Imlek sebelumnya karena bertepatan dengan muncul Tahun Naga Emas. ''Ini tahun istimewa. Tahun yang hebat. Maka hal-hal yang diyakini bisa membawa sial, harus betul-betul dijauhi,'' tuturnya.

Berbicara tentang Tahun Naga Emas, banyak etnis Tionghoa yang percaya tahun ini merupakan tahun keberuntungan. Sebab menurut mereka, tahun 2000 merupakan Tahun Naga Logam. Naga Logam ini bersifat YANG (positif). ''Sebenarnya, Tahun Naga Emas, dulunya tidak dikenal. Astrologi Tionghoa lebih mengenal kata logam. Misalnya Tahun Naga Logam. Karena logam
dikonotasikan emas, maka kita lebih senang menyebut Naga Emas,'' urai seorang pengusaha yang meminta namanya tidak perlu disebut.

Sang Pengusaha ini tidak bisa menjelaskan, sejak kapan istilah Naga Emas populer dan sejak kapan Naga Logam tak lagi dipakai. ''Saya bukan ahlinya. Tapi begitulah cerita dari orang-orangtua kita. Emas adalah logam yang mulia. Perak atau tembaga juga logam. Tapi karena emas lebih mulia, kata itulah yang dipakai,'' ujarnya.

Bagi etnis Tionghoa khususnya dan pemerhati astrologi umumnya, Tahun ini menjadi sangat istimewa karena Naga dengan unsur dasar logam mulia (diidentikkan dengan emas), merupakan pengulangan siklus yang hanya terjadi dalam 60 tahun sekali. Siklus ini didasarkan pada kelipatan shio yang berjumlah 12. Dalam astrologi Tionghoa, seperti yang juga telah dikenal sebagian masyarakat penyuka ilmu perbintangan, ke 12 shio itu dilambangkan dengan ; Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi.

Perayaan Imlek yang kali ini nampaknya terasa lebih istimewa dibanding tahun-tahun lalu, sejauh pengamatan Standard, sebenarnya tidak hanya karena tahun 2000 ini merupakan Tahun Naga Emas. Tapi lebih karena aura politik yang terjadi di tanah air yang telah membuka pintu kebebasan dan persamaan hak. Terlebih bagi etnis Tionghoa, selama lebih dari 32 tahun
di zaman pemerintahan Soeharto, mereka terkungkung tak boleh ini tak boleh itu.


Sampai-sampai kesenian Barongsai yang seringkali juga dimainkan oleh warga pribumi, tidak dibolehkan unjuk kelincahan yang bertumpu pada nilai-nilai seni dan kebudayaan. Itu sebabnya, begitu pintu rezim orba tumbang dan digantikan oleh pemerintahan Gus Dur, kesenian barongsai tidak saja kembali menggeliat dan melompat-lompat. Tapi juga difestivalkan dengan kemeriahan yang meledak ledak.


Kembali pada hari raya Imlek dikaitkan dengan Tahun Naga Emas, banyak etnis Tionghoa yang percaya tahun 2000 ini menjadi awal kebangkitan dunia usaha. Hanya saja, iklim dunia usaha belum cukup kondusif untuk menyambut sang naga keberuntungan itu. Pasalnya, ini rangkuman dari berbagai percakapan dengan para pedagang di Glodok, persoalan politik dan keamanan menjadi kendala yang bisa jadi batu sandungan bagi sejumlah ''naga'' yang ingin datang ke Indonesia. ''Banyak naga (pengusaha dan modal asing) yang belum kembali atau naga yang ingin menanamkan ivestasi mereka terkendala oleh situasi politik dan keamanan yang tidak stabil,'' kata seorang pengusaha elektronik. Naga-naga yang dimaksud pengusaha ini tergolong naga emas alias para pengusaha besar.

Menurut kalangan pengusaha ini, berbagai kerusuhan yang masih terjadi, persoalan perbankan yang carut marut, politikus dan pengamat yang lebih suka berdebat di televisi dan media cetak, membuat para ''naga'' di luar (negeri) dan ''naga'' yang di dalam (negeri) berpikir keras untuk
kembali menanam investasi mereka.


Kalau saja iklim politik dan keamanan sangat kondusif untuk mendukung dunia usaha, kalangan pengusaha ini yakin Tahun Naga Emas benar-benar menjadi tahun keberuntungan. ''Krisis moneter hanya salah satu sebab hancurnya perekonomian, sebab-sebab yang lain lebih dominan,'' kata pria yang mengaku sudah mulai bisa melupakan kasus kerusuhan 12 Mei tahun 1998 dan sejak beberapa bulan ini mulai kembali menata bisnisnya di Glodok dan Mangga Dua.

Tepat pukul 00.00 setelah 4 Februari (masuk 5 Februari) nanti malam, pintu Naga Emas terkuak dan Imlek pun dirayakan dengan suka cita oleh seluruh warga keturunan Tionghoa. Persoalan umum yang tersisa adalah : apakah Naga Emas benar-benar membawa keberuntungan, walahu'alam.

Yang pasti, besok bakal banyak toko di kawasan Jakarta Kota yang tutup dan mudahan Senin lusa buka kembali dan Naga Emas masuk dengan benar-benar membawa keberuntungan bagi semua orang !

Dimuat di Harian Umum Glodok Standard, Jakarta edisi 4 Februari 2000

Diposting ke milis tionghoa-net 5 Pebruari 2000.