26 Agustus 2007

Ketika Mata kuliah Agama Buddha tidak tercantum


Oleh : Eva Yulianti
beranusa@yahoo.com

BEBERAPA hari ini adalah hari yang cukup membuat saya sibuk ber SMS, dengan Dosen Pembimbing saya, Ibu Nunung atau Ibu Wirdyaningsih, Selain setelah beberapa hari yang lalu bolak-balik Depok, untuk Daftar ulang, dan mengikuti Pengenalan Studi dan Lingkungan Akademik ( PSLA ) di FHUI.

Di UI, saya harus melakukan Registrasi Administrasi yang dilakukan secara host to host di Bank BNI, dan Registrasi Akademik, dengan Prosedur secara On line yang mana setiap Mahasiswa harus mengisi IRS ( Isian Rencana Studi ) dan harus disetujui oleh Dosen Pembimbing Akademik dari masing-masing kelompok yang terdiri dari 15 org Mahasiswa.

Untuk Registrasi Akademik di lakukan di SIAK NG ( Sistem Informasi AKademik New Generation ), yang mana setiap mahasiswa sudah mendapat Login Name dan Passwordnya yang berlaku setiap 6 bulan sekali dan harus diperpanjang cukup dengan ganti password saja.

Berhubung dalam Semester Gasal ini, saya hanya bisa mengisi 13 SKS ( Satuan Kredit Semester ) , buat mengurangi beban SKS saya berniat mengambil Mata Kuliah( MK) Agama, namun sayang sekali MK Agama Buddha tidak ada dalam Daftar IRS ( Isian Rencana Studi ), berhubung nggak ada saya pikir sebagai bahan kelak mempelajari Hukum Islam, maka saya berniat mengambil MK Agama Islam.

Akhirnya sayapun mengisi IRS saya dengan mencantumkan Agama Islam dalam IRS saya, jadi SKS yang saya ambil sebanyak 15 SKS, kemudian sayapun menghubungi Pembimbing akademik ( PA ) untuk minta di approve IRS nya, melalui SMS sayapun mengatakan berhubung MK Agama Buddha tidak ada dalam daftar IRS, maka saya mengambil MK Agama Islam.

Tak lama PA saya membalas SMS saya " Bahwa untuk mengikuti MK Agama, harus sesuai dengan keyakinan yang dianut. " maka Dosen PA saya, Ibu Nunung meminta waktu untuk mencari tahu bagaimana cara, agar saya dapat mengikuti MK Agama Buddha.

Akhirnya Ibu Nunung memberitahu kepada saya, berhubung di FHUI Ekstensi hanya saya sendiri yang beragama Buddha, maka MK Agama Buddha bisa diikuti melalui perkuliahan lintas Fakultas, yang biasa diadakan di Fakultas Tehnik, dengan syarat harus mengajukan prosedur ke Sekretariat Pendidikan Ekstensi FHUI.

Senang sekali rasanya mendengar Jawaban PA saya, akhirnya sayapun menelpon ke Bag. sekretariat, dengan Pak Indra, dari Pak Indra diberitahu bahwa yang mengurus hal tersebut adalah Ibu Komala Dewi, karena dulu sekali ada juga satu-satunya mahasiswa FH yang beragama Buddha ( Dan sekarang baru ada lagi yaitu saya.. he...he...he.

..), dan Bu Dewi baru ada di Tempat Besok, saking bawelnya saya, sampai sampai Operator yang terima telpon pas tanya dari siapa , saya jawab dari Eva , langsung Operatornya jawab " Oh ini Mbak Eva yang Agama Buddha Ya... sebentar ya Mbak, wah... senang sekali rasanya saya banyak yang membantu.

Hari ini Via Telpon saya berbicara dengan Ibu Komala Dewi, dari beliau saya diberi no telpon Dosen Agama Buddha, Yaitu Bapak Ir. Ariya Chandra, yang tak lain Beliau adalah Pandita Agama Buddha, yang juga dulu sering saya temui di Vihara Dhammacakka Jaya Sunter.


sayapun langsung menelpon Bapak Ariya Chandra, dan memperkenalkan diri dan menceritakan Perihal MK Agama Buddha yang tidak ada dalam IRS, jadi saya harus mengikuti melalui Lintas Fakultas, dari Pak Ariya saya memperoleh keterangan jika ada sesuatu yang kurang jelas bisa ditanyakan di Rektorat bidang MKU , dan saya juga di beri web nya KMBUI ( Keluarga Mahasiswa Buddhis Universitas Indonesia ).

Setelah selesai berbicara dengan Pak Ariya, sayapun langsung menelpon kembali Ibu Dewi, dan, Jawaban Bu Dewi adalah " Mbak Eva, sekarang juga mbak buka di SIAK NG, Di Daftar Isian Rencana Studi ( IRS ) sudah ada Mata Kuliah Agama Buddha. "


Luar Biasa Tanggap sekali FHUI, hanya dalam hitungan 1 setengah hari saja, MK Agama Buddha sudah langsung tercantum di daftar Mata Kuliah lengkap dengan nama Dosen dan jam perkuliahannya juga kelasnya yaitu di FHUI ruang c 303.

Saya langsung menelpon kembali Pak Ariya: " Pak Ariya, Nammo Buddhaya, MK Agama Buddha sudah tercantum di IRS, dan berada di urutan pertama mata Kuliah. "

Wah UI memang hebat euy, wah... rasanya akan menyesal kalau saya tidak bisa mengikuti perkuliahan dengan baik.

Jadi... Selesailah administrasi Akademik saya hari ini, dan sudah di approve oleh Dosen Pembimbing akademik saya....

Terima kasih yaa... Bapak, Ibu..Di Sekretariat Fakultas Hukum pendidikan Ekstensi UI, itulah telpon saya hari ini.. Juga kepada Bapak Ir. Ariya Chandra.

Diposting di milis tionghoa-net pada 22 Agustus 2007


07 Agustus 2007

Mari Belajar Swi-phoa (2)


PENGURANGAN

Prinsip pengurangan hampir sama dengan penjumlahan. Kalau dalam penjumlahan angka penambah ditambahkan langsung pada biji-biji angka awal, dalam pengurangan angka pengurang langsung diambil dari biji-biji yang ada pada angka awal. Sekarang kita coba mengurangkan : 357 - 123 = 234 dengan menggunakan Swi-Phoa.

Pertama tempatkan dahulu angka 357 seperti di atas. Kemudian kurangkan angka .123 pada posisi yang sesuai, langsung membuang biji-biji yang sudah ada di papan. Pada lajur 3 - 1 biji; lajur 2 - 2 biji dan lajur 1 - 3 biji. Maka di papan swi-phoa kita akan melihat angka 234.

Latihlah terus dengan angka-angka yang pengurangnya tidak lebih besar dari angka-angka awal. Setelah hafal dapat dilanjutkan dengan angka berapa saja, asal hasilnya jangan negatif. Untuk sementara kita abaikan pengurangan yang hasilnya negatif. Sekarang kita coba menjumlahkan : 557 - 468 = 89.

Pertama tempatkan angka 557 seperti di atas. Kemudian kurangkan angka 468 dengan membuang biji-biji pada posisi yang sesuai. Untuk mengurangkan angka 4 (= 400). Pada lajur no.3 ada 5 biji di bawah (atau 1 biji atas). Buang 4 biji bawah, sehingga tersisa 1 biji bawah. Kalau semula yang dipakai 1 biji atas, buang 1 biji atas (5) tambahkan 1 biji bawah.

Untuk mengurangkan angka 6 (= 60). Pada lajur 2 hanya ada 5 biji bawah (atau 1 biji atas), sedang yang harus dibuang 6 biji. Tukarkan dahulu 1 biji bawah pada lajur 3 dengan 2 biji atas (kalau semula memakai 1 biji atas, gunakan 1 biji atas + 5 biji bawah). Sekarang di lajur 2 semua biji terpakai, 2 biji atas dan 5 biji bawah. Untuk membuang 6 biji, buang 1 biji atas dan 1 biji bawah, sehingga di lajur 2 tersisa 1 biji atas dan 4 biji bawah.

Untuk yang sudah lancar bisa secara langsung, membuang 1 biji bawah pada lajur 3 (10) dan menambahkan 4 biji bawah pada lajur 2. Di lajur 2 akan tersisa 1 biji atas dan 4 biji bawah. Hasilnya sama saja. Di lajur 3 sekarang tidak ada lagi biji yang tersisa.

Untuk mengurangkan angka 8 (= 8). Pada lajur 1 hanya ada 1 biji atas dan 2 biji bawah, sedang yang harus dibuang 8 biji. Untuk menukarkan dahulu 1 biji bawah pada lajur 2 dengan 2 biji atas pada lajur 1 tidak bisa, karena biji yang tersisa di lajur 1 tidak cukup.

Jadi harus dipakai cara langsung, membuang 1 biji bawah pada lajur 2 (10) dan menambahkan 2 biji bawah pada lajur 1. Di lajur 1 akan tersisa 1 biji atas dan 4 biji bawah. Di lajur 2 yang semula ada 1 biji atas + 4 biji bawah, sekarang hanya tersisa 1 biji atas + 3 biji bawah. Setelah pengurangan ini di papan swie-phoa akan tampak angka 89.

Latihlah berulang kali sampai lancar benar.

Posting #1.561 pada 4 Maret 2000 oleh Wong Chin Na

05 Agustus 2007

Profil Tan Sing Loen












Meneruskan Tradisi Sekolah Gratis

Oleh : Antony Lee

Jauh sebelum sekolah gratis ramai dibicarakan, sebuah sekolah di daerah pecinan, Kota Semarang, Jawa Tengah sudah menerapkannya. Tidak hanya untuk etnis Tionghoa, sekolah gratis ini didedikasikan bagi semua golongan sejauh mereka tidak mampu. Sebagai Ketua Yayasan Khong Kauw Hwee, Tan Sing Loen sudah belasan tahun mengelola sekolah ini.

Perkenalan Tan Sing Loen (74) dengan Yayasan Khong Kauw Hwee sebenarnya sudah berlangsung sejak sekolah ini dirintis, sekitar tahun 1950. Ketika itu, dia masih sekadar membantu mencarikan dana lewat penyelenggaraan bazar. Keterlibatannya dengan yayasan itupun semula masih sekedar membantu.

Sesekali dia terlibat langsung dengan kegiatan sekolah sebab ketika itu Tan Sing Loen masih sibuk berdagang alat-alat listrik di tokonya, juga di kawasan pecinan Semarang.
Pada tahun 1984 dia diminta untuk menjadi sekretaris yayasan. Lalu, beberapa tahun kemudian dia menggantikan ketua yayasan yang meninggal dunia.

Sekolah Kuncup Melati yang dikelola Tan Sing Loen ini sekilas tidak berbeda dengan sekolah lain. Bangunan sekolah yang terletak di Gang Lombok—kawasan pecinan Semarang—ini juga tak terlalu besar. Namun, di sekolah ini ratusan anak tak mampu dari berbagai latar belakang menimba ilmu tanpa dipungut bayaran sepeser pun. Dana operasional sekolah ini semata-mata didapat dari para donatur.

Tak jarang pula, untuk membantu yayasan, para orangtua murid menyempatkan diri turut membersihkan lingkungan sekolah. Ini karena di sekolah tersebut tidak ada petugas kebersihan.

Pendidikan gratis yang hanya bermodal sumbangan dan kerelaan hati para donatur ini terdiri atas taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD). Sudah sejak tahun 1950 sekolah tersebut membantu ribuan anak tak mampu untuk mengenyam pendidikan. Pada tahun ajaran baru tahun ini seluruh siswanya berjumlah 243 anak.

"Sekolah ini merupakan wadah pengabdian. Para murid tidak pernah dipungut biaya apa pun. Namun, justru banyak donatur yang terketuk hatinya untuk membantu," ungkap Tan Sing Loen akhir Juli lalu.

Bantuan yang diterima sekolah ini tidak selamanya berupa uang. Ada pula masyarakat yang memberikan alat tulis, seragam, membantu membayar rekening listrik, rekening telepon, atau memberi makanan. Pengurus yayasan tak pernah menolak bantuan dalam bentuk apa pun.

Saat Kompas sedang berbincang dengan laki-laki yang sering dipanggil Om Tan ini, seorang perempuan datang ke ruangan kepala sekolah. Dia menawarkan diri untuk mengisi kekosongan guru bahasa Mandarin bagi murid kelas enam, tanpa meminta bayaran. "Entah dari mana dia dapat informasi bahwa kami kekurangan guru. Tetapi, memang bantuan semacam ini juga sering datang meski kami tidak pernah meminta. Dermawan selalu saja ada," tuturnya.

Setiap bantuan berupa barang diberikan langsung kepada para murid. Om Tan menerapkan manajemen terbuka. Oleh karena itulah, setiap donatur bisa langsung melihat untuk apa sumbangan yang diberikan.

Pengabdian dan sukarela
Menurut Om Tan, pengelolaan yayasan ini berpedoman pada prinsip pengabdian dan sukarela. Hal ini pula yang mengawali berdirinya sekolah tersebut pada tahun 1949. Berbekal sisa uang iklan buku peringatan kelahiran Kong Hu Chu senilai Rp 800 dan sumbangan seorang dermawan Rp 1.000, para perintis Khong Kauw Hwee membuat bangku dan meja untuk kegiatan belajar mengajar.

Pada awal 1950 dibukalah kursus pemberantasan buta huruf yang diadakan di lingkungan Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok. Masalah sempat dihadapi akhir tahun 1960-an ketika salah seorang pendiri meninggal dunia. Kondisi finansial sempat memburuk dan donatur pun tidak banyak. Hampir saja sekolah ini ditutup.

Akan tetapi, pada awal 1970-an, alumni sekolah ini mencoba membentuk panitia penyelamatan dan mereka bahu-membahu membangkitkan kembali yayasan ini. Perbaikan terus dilakukan.


Pada saat Om Tan menjadi ketua yayasan, mengandalkan sumbangan dari donatur, terkumpul sejumlah uang untuk mendirikan bangunan sendiri untuk sekolah ini. Dua tahun waktu yang dibutuhkan hingga bangunan ini berdiri tahun 1992. Bangunan sekolah TK dan SD Kuncup Melati yang baru ini menempati lahan di sebelah barat Kelenteng Thay Kak Sie, berlantai tiga, dan terdiri atas sembilan ruangan : dua ruangan untuk TK, enam ruangan untuk SD, dan ruangan untuk tata usaha (TU).

Beragam pengalaman didapatkan Om Tan selama 13 tahun memimpin Khong Kauw Hwee. Kesulitan sempat dialaminya saat sekolah yang mengandalkan donasi ini murid-muridnya diminta membayar sejumlah uang oleh dinas pendidikan pada periode 1990-an.

"Dinas pendidikan tidak percaya kalau sekolah ini benar-benar tidak memungut bayaran dari murid. Saya juga diminta menghadap kepala dinas ketika itu," cerita Om Tan.

Kesulitan ini pun akhirnya berganti menjadi uluran tangan bagi Om Tan dan yayasan. Sang kepala dinas yang semula tidak percaya, setelah mendapat penjelasan, justru berbalik terharu dan memberikan bantuan buku-buku pelajaran. Kenangan ini sangat membekas dalam hati Om Tan.

Dia juga tidak pernah membeda-bedakan siswa yang akan masuk di sekolah ini. Siapa pun dan dari latar belakang apa pun, selama memiliki niat bersekolah dan tak mampu, pasti diterima. Hal ini pula yang membuat siswa sekolah ini tak hanya berasal dari etnis Tionghoa.

Om Tan merasakan sendiri bagaimana susahnya orang yang tak bisa mengenyam pendidikan. Ia sendiri lulusan sekolah dasar.

Kedekatan
Bagaimana dengan kualitas pendidikan? Para siswa tetap diberi materi pendidikan sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan pemerintah. Bahkan, mereka juga diberi tambahan pelajaran bahasa Inggris dan Mandarin. Prestasi siswanya juga tak buruk sehingga sekolah ini menduduki peringkat menengah dari semua sekolah di Kota Semarang.

Meski tak pernah mendapat gaji, Om Tan tetap bahagia mengabdi di Khong Kauw Hwee. Bayaran paling berharga baginya adalah tegur sapa dari para orangtua murid dan kedekatan dengan mereka. "Saya tidak gila hormat. Kalau saya yang sudah berusia 74 tahun ini bisa membantu anak- anak tak mampu, itu membuat saya merasa berguna," ujarnya.

Belasan tahun bekerja tanpa bayaran hanya senyum tulus orangtua murid dan pengabdian yang membuat Om Tan bertahan. Hal ini pula yang membuat pria bersahaja ini selalu tersenyum setiap menjumpai seseorang.

Menurut Kepala SD Kuncup Melati Agustin Indrawati (47), sekalipun para pengajar mendapatkan imbalan, tetapi jumlahnya sangat terbatas. "Mengajar di sini lebih mengutamakan kepuasan batin," ungkap Agustin Indrawati yang sudah 27 tahun mengabdi.

Meski 10 murid terbaik sekolah ini bisa melanjutkan ke SMP Mataram di Semarang dengan gratis, Om Tan mengaku, sebetulnya ia ingin sekolah Kuncup Melati ini bisa berkembang. "Biar anak-anak tak mampu juga bisa sekolah sampai SMP, bahkan SMA,
tak cuma lulus SD saja," ungkapnya.

Biodata

Nama: Tan Sing Loen
Tempat, tanggal lahir: Semarang, 10 Oktober 1933
Pendidikan Terakhir: Sekolah Dasar
Jabatan: Ketua Yayasan Khong Kauw Hwee

Istri: Bee Bwat Nio (72)
Anak:
- Tan Hok Teh (47)
- Tan Hok Chi (46)
- Tan Bee Sian (44)
- Tan Bee Ling (36)
- Tan Bee Lian (34)
- Tan Hok Kim (32)

Sumber :
KOMPAS - Jumat, 03 Agustus 2007