02 Agustus 2007

Dongeng tentang Dewa Dapur

Asal Muasal Kue Keranjang

Oleh : Jet
jchsk@ptk.centrin.net.id

PADA jaman dahulu kala, tersebutlah sepasang suami istri yang hidup serba berkecukupan. Sebut saja namanya Tuan Po dan Ny. Po. Sebelum kawin dengan Ny. Po, Tn. Po adalah orang yg hidup pas2an. Namun berkat rejeki yg dibawa oleh istrinya, perlahan-lahan usaha Tn. Po semakin maju.

Ny. Po adalah seorang yg berhati mulia dan selalu menolong orang yg kesusahan. Karena itulah ia dikaruniai rejeki yg besar oleh Dewa-dewa di langit. Kemanapun ia pergi, rejeki selalu mengikutinya. Bahkan ketika kawin dengan orang miskin, rejekinya pun menular ke suaminya sehingga menjadi kaya. Akhirnya usaha Tn. Po pun semakin maju dan mereka hidup bahagia.

Namun, sayangnya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tn.Po pada dasarnya memang mempunyai watak egois dan suka menang sendiri. Sejak kehidupannya membaik, teman2nya sering bergunjing di belakangnya bahwa kehidupannya tidak akan berubah kalau dia tidak kawin dengan istri yg membawa rejeki.

Sejak mendengar itu Tn.Po menjadi kesal kepada istrinya. Dia tidak percaya bahwa istrinya lah yg membawa rejeki kepadanya. Maka suatu hari ia berniat mencobai "rejeki" istrinya itu...

Dibawanyalah segenggam kacang tanah yg masih ada kulitnya kepada istrinya. Lalu dia mengadakan permainan memilih kacang, siapa yg memilih kacang yg isinya paling besar maka dialah yg menang. Dasar mau menang sendiri, Tn.Po pun mengambil kacang yg paling besar lebih dulu. Giliran Ny.Po, ia hanya memilih sembarangan.

Saat dibuka kulitnya, ternyata kacang yg dimiliki Tn.Po isinya sangat kecil, sedangkan kacang yg dipilih Ny.Po malah mempunyai isi yg padat dan lebih besar. Tidak puas dengan itu, Tn.Po pun mengulangi permainan itu berulang2, namun selalu kalah terus karena memang rejeki istrinya yg sangat besar itu. Akhirnya Tn. Po menjadi sangat gusar dan diusirnya istri yg telah memberinya rejeki berkelimpahan itu dengan kejamnya.

Setelah diusir, Ny. Po menjadi sebatang kara dan mengembara. Suatu hari ia sedang berjalan melintasi sebuah gubuk reyot, ketika mendengar suara rintihan seorang wanita. Heran bercampur iba, iapun masuk ke gubuk itu. Ternyata didalamnya ada seorang nenek tua yg sedang sakit keras. Ny.Po segera merawat nenek itu seperti ibunya sendiri. Ternyata anak dari nenek itu tidak sempat mengurus ibunya karena harus bekerja di ladang. Karena hatinya yg sangat mulia, Ny.Po memutuskan utk tinggal sementara disitu sampai nenek itu sembuh.

Singkat cerita, nenek itu pun sembuh dan akhirnya Ny.Po pun menikah dengan anak dari nenek itu. Dasar pembawa rejeki, tidak lama setelah pernikahannya, derajat kehidupan suami yg baru dinikahinya itu pun berangsur membaik. Dari buruh tani miskin akhirnya suaminya menjadi seorang petani kaya raya yg memiliki sawah yg luas dan hidup serba berkecukupan.

Suatu ketika terjadi musim paceklik yg hebat di wilayah itu, yg membuat banyak orang menderita kelaparan. Namun tidak demikian halnya dengan sawah yg dimiliki oleh Ny.Po yg terus menghasilkan di musim paceklik sehingga lumbung padinya selalu penuh terus. Terdorong oleh jiwa sosialnya yg sangat tinggi, maka Ny.Po membuka lumbungnya dan membagi2kan berasnya secara cuma-cuma kepada orang2 yg membutuhkan. Setiap hari dari siang sampai sore ia membagi2kan beras di lumbungnya secara cuma2.

Maka berduyun2lah orang datang dari seluruh wilayah yg mengalami paceklik. Kabar itu juga sampai ke telinga Tn. Po yg sekarang sudah jatuh miskin karena rejekinya telah dibawa pergi oleh Ny.Po! Semenjak kepergian istrinya, satu persatu musibah datang menimpanya, akhirnya ia pun jatuh miskin dan kehilangan semua kekayaannya. Dalam keadaan miskin dan lapar ia pergi ke rumah yg menawarkan beras cuma-cuma itu, tanpa menyadari bahwa yg membagikan beras itu adalah istri tersayang yg sudah diusirnya....

Akhirnya ia pun sampai di antrian orang yg mengantri beras. Ny. Po menyerahkan urusan membagi beras itu kepada pesuruhnya, sehingga Tn.Po tidak melihatnya di situ. Namun dasar sial, Tn.Po selalu gagal mendapatkan jatah, karena jam pembagian beras selalu habis sebelum tiba gilirannya. Tiga hari berturut-turut selalu gagal mendapatkan beras, akhirnya Tn.Po pingsan menahan lapar.

Si pesuruh yg bertugas membagikan beras, segera membawanya ke belakang rumah, yaitu ke bagian DAPUR rumah itu. Mendengar ada orang pingsan, Ny.Po segera datang dan terkejut melihat bahwa org yg pingsan di dapurnya itu adalah mantan suami yg dulu pernah mengusirnya....

Maka Ny.Po pun segera menyuruh pembantunya menyiapkan makanan utk mantan suaminya. Ny. Po masih bingung dengan cara apa ia harus memberitahu identitas dirinya kepada Tn. Po. Ia harus melakukannya tanpa ketahuan orang lain. Akhirnya ia mendapatkan suatu cara, yaitu dengan menunjukkan cincin kawin lamanya kepada sang mantan suami. Ny.Po lalu mengambil cincin kawin lama yg masih disimpannya itu dan menyembunyikannya di bawah nasi di dalam mangkuk nasi yg akan diberikan kepada Tn. Po...

Malam itu, akhirnya Tn.Po sadar dari pingsannya. Si pesuruh yg telah menungguinya di dapur segera menyuruhnya makan. Ia pun ditinggal di dapur itu dan dibolehkan beristirahat di sana. Saat sedang menyendok nasinya, sendoknya terbentur oleh sebuah benda keras. Setelah diperiksa ternyata benda itu adalah sebentuk cincin, yang ternyata adalah cincin yg pernah diberikannya kepada mantan istrinya....

Saat itu pula ia tersadar bahwa org baik hati yg telah memberinya makan di saat ia kelaparan adalah mantan istrinya yg dulu pernah diperlakukan secara kejam dan diusirnya semena-mena....

Saat itu juga penyesalan dan rasa malu yg tiada terhingga menyerang dirinya. Sebelum menghabiskan makanannya, ia mengambil sebuah tali dan langsung menggantung dirinya sampai tewas di dapur itu.... Sejak itu lah orang percaya bahwa jiwanya selalu menghantui dapur di rumah itu dan juga dapur2 yg ada di rumah lainnya.

Akhirnya orang mulai menyembahyangi dia sebagai DEWA DAPUR (Cuo Sen) dan menganggapnya sebagai utusan dari Kaisar Langit (Thian Ti), pemimpin segala dewa, yg bertugas utk menyelidiki perilaku setiap manusia di bumi melalui dapur rumahnya masing2.

Berkembang juga kepercayaan bahwa Dewa Dapur akan melaporkan hasil penyelidikannya itu kepada Kaisar Langit setiap menjelang Tahun Baru Imlek, tepatnya seminggu sebelum Imlek, yaitu tanggal 24 bulan 12 tahun Imlek. Agar sang Dewa Dapur tidak melaporkan hal2 yg buruk-buruk kepada Kaisar Langit, maka ia perlu dijamu dan disuap dengan kue-kue, manisan, dan buah2an yang serba enak.

Dan salah satu kue yg sangat disenanginya adalah kue manis yg terbuat dari bahan beras ketan, yang kemudian disebut Nian Gao (Kue Tahun Baru) atau yg di Indonesia dikenal dengan nama Kue Keranjang atau Kue Manis. Seluruh warga menyediakan dodol manis yang disajikan dalam keranjang, yang disebut kue keranjang. Kue keranjang itu berbentuk bulat, mengandung makna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang. Kue keranjang disajikan di depan altar atau di dekat tempat sembahyang di rumah.

Diposting pada 24 Januari 2001 no posting #5.454

31 Juli 2007

THHK, Baperki dan Nation-Building


Kaum Tionghoa Juga Nasionalis !

Oleh: Siauw Tiong Djin

NATION Building merupakan proses terpenting dalam mengkonsolidasi kemerdekaan dan keutuhan Republik Indonesia. Republik Indonesia yang tidak ber-bangsa tentunya bukan negara. Yang dimaksud dengan bangsa di sini bukanlah ras -- karena dunia tidak mengenal adanya Indonesian ras -- melainkan Indonesian Nation (Bangsa Indonesia) – yang terdiri dari berbagai suku, termasuk suku Tionghoa yang ternyata merupakan salah satu suku terbesar di Indonesia.

Dalam konteks Nation-Building inilah tulisan ini dipersembahkan untuk menganalisis sumbangsih dua organisasi yang didirikan dan dikembangkan oleh tokoh-tokoh peranakan Tionghoa.

Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK)
Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK) – Rumah Perkumpulan Tionghoa – didirikan pada tahun 1900 oleh beberapa tokoh peranakan Tionghoa di Batavia (Jakarta). Tujuan utama para pendirinya adalah mendorong orang Tionghoa yang bermukim di kawasan Hindia Belanda (nama Indonesia ketika ia dijajah oleh Belanda) untuk mengenal identitas-nya. Mereka menginginkan masyarakat Tionghoa yang sudah bergenerasi hidup di Hindia Belanda mengenal kebudayaan Tionghoa sehingga mereka bisa bersatu sebagai satu kelompok masyarakat yang dihormati oleh penjajah Belanda.

Proses pengenalan kebudayaan atau pencarian identitas yang ditempuh oleh para pendiri THHK adalah penyebar-luasan ajaran Khong Hu Cu, ajaran atau “agama” yang dijunjung oleh masyarakat Tionghoa baik di dalam maupun di luar Tiongkok pada waktu itu.

Pengertian bangsa Tionghoa tentunya berkaitan dengan Chinese Race, karena memang pada waktu itu, persoalan negara dan bangsa belum jelas. PembentukanTHHK mendahului pembentukan Republik Tiongkok yang dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen.

Lahirnya THHK membuahkan beberapa sikap penting dalam sejarah Indonesia. Para pendiri THHK memutuskan untuk menyebar luaskan ajaran Khong Hu Cu ini melalui jalur pendidikan. Berdirilah sekolah-sekolah THHK di berbagai kotabesar di Hindia Belanda. Bahasa pengantar yang dipergunakan adalah bahasa Kuo Yu – Mandarin. Guru-guru lulusan Tiongkok dan berbagai tempat lainnya di “import” untuk mengajar dengan program pendidikan modern yang secara keseluruhan bersandar pada apa yang berkembang di Tiongkok. Melalui program ini, ajaran Khong Hu Cu disebar luaskan pula.

Usaha semacam ini tentunya disambut oleh masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda, baik mereka yang berasal dari kelompok peranakan (yang sudah bergenerasi di Hindia Belanda) maupun yang berasal dari kelompok totok (yang lahir di Tiongkok). Sekolah-sekolah THHK berkembang pesat dan jumlah pelajarnya meningkat dengan hebat. Karena bahan-bahan pelajaran diambil dari Tiongkok, masyarakat Tionghoa yang berhubungan dengan THHK, termasuk generasi mudanya, terdorong untuk berkiblat ke Tiongkok dan mengenal, bahkan mendukung, nasionalisme Tiongkok.

Perkembangan yang sangat mempengaruhi jalan berpikir masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda ini mengkhawatirkan pemerintahan Belanda. Inilah yang menyebabkan mereka membuka sekolah-sekolah Belanda khusus untuk masyarakat Tionghoa pada awal abad ke 20. Tujuannya adalah menarik sebanyak mungkin siswa Tionghoa supaya pengaruh nasionalisme Tiongkok bisa berkurang.


Dalam konteks perwujudan identitas Tionghoa di Hindia Belanda, para pendiri THHK berhasil. Masayarakat Tionghoa, terutama peranakan dan generasi mudanya, mengenal lebih baik ajaran Khong Hu Cu dan kebudayaan Tionghoa. Walaupun pengenalan identitas Tionghoa di dalam kalangan peranakan Tionghoa tidak berubah menjadi keinginan untuk “kembali” ke Tiongkok, ia merupakan faktor penting dalam proses pembangunan bangsa – nasion Indonesia, yang oleh sementara sejarahwan dikatakan terbentuk pada tanggal 21 Mei 1908.

Ke–Tionghoaan masyarakat Tionghoa di Indonesia memiliki kekhususan karena ia sangat dipengaruhi alam dan kebudayaan Indonesia secara keseluruhan. Dan ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari nasion Indonesia.

Selain penemuan identitas Tionghoa dan ke-Tionghoaan ala Hindia Belanda (Indonesia), THHK juga berhasil melahirkan sebuah istilah yang memiliki makna penting. THHK merupakan organisasi pertama yang memperkenalkan dan menyebar-luaskan penggunaan istilah Tionghoa (menurut dialek Hokkian) atau Chung Hua (menurut dialek Mandarin) untuk masyarakat Tionghoa di kawasan Hindia Belanda, menggantikan istilah “China”.

Istilah Tionghoa dipergunakan oleh para pejuang revolusi Tiongkok yang dipimpin oleh Sun Yat Sen. Pada waktu Sun Yat Sen mendeklarasikan pembentukan Republik Tiongkok pada tahun 1911, istilah “Tionghoa” resmi dipergunakan untuk bangsa dan bahasa Tionghoa. Keberhasilan revolusi Tiongkok yang didasari oleh nasionalisme Tionghoa ini, dikatakan oleh banyak sejarawan sebagai pendorong bangkitnya nasionalisme Indonesia di awal abad ke 20.

Oleh karena itu, para pejuang nasionalis Indonesia-pun segera menganut istilah “Tionghoa” sebagai istilah perjuangan. Bagi para pejuang nasionalis Indonesia, istilah “Tionghoa” memiliki makna yang sama dengan istilah “Indonesia” yang kemudian diterima sebagai istilah pemersatu perjuangan yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda pada tahun 1928.

Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa istilah “Tionghoa” digunakan oleh masyarakat Indonesia dan pemerintah RI, hingga pemerintah Orde Baru mengeluarkan kebijakan pada tahun 1966 untuk menggantinya dengan istilah “China”, sebuah istilah yang di Indonesia mengandung konotasi penghinaan terhadap golongan Tionghoa.

Pengaruh THHK dalam kalangan peranakan Tionghoa berangsur berkurang pada tahun 1930-an, karena program pendidikannya dianggap kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Tionghoa di zaman penjajahan. Pengaruh dan perannya boleh dikatakan hilang setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tahun 1945. Walaupun demikian, ia telah meninggalkan sebuah warisan sejarah, yaitu identitas ke-Tionghoaan Indonesia, yang oleh sebuah organisasi massa besar di zaman yang berbeda, dianggap sebagai bagian penting dari nasion Indonesia.

Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki)
Pada tahun 1954 organisasi yang dinamakan Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) didirikan oleh beberapa tokoh peranakan Tionghoa. Masalah yang dihadapi para tokoh Baperki yang dipimpin oleh Siauw Giok Tjhan pada masa itu bukan lagi identitas ke-Tionghoa-an. Yang mereka hadapi adalah diskriminasi rasial di berbagai bidang. Ini lalu membangkitkan perjuangan mempercepat Nation-Building dan menentang rasialisme.

Perbedaan fundamental antara Baperki dan THHK terletak pada program kerjanya. THHK, seperti banyak organisasi Tionghoa lainnya, menitikberatkan program pendidikan dan sosial. Sedangkan Baperki berkembang sebagai sebuah organisasi massa yang mengutamakan perjuangan politik dalam mencapai tujuan ekonomi, sosial, kebudayaan dan pendidikan.

Baperki menekankan bahwa dengan terbentuknya Republik Indonesia, terwujud pula secara resmi bangsa atau nasion Indonesia. Baperki mempertegas bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yang beraneka ragam kebudayaan serta adat istiadat-nya. Bertolak dari semboyan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi satu), Baperki mendorong diterimanya golongan yang ke-Tionghoaannya terwujud dan berkembang di Indonesia ini sebagai bagian yang tidak terpisah dari nasion Indonesia.

Para tokoh Baperki kemudian mengembangkan prinsip ini dengan paham integrasi. Mereka menganjurkan golongan Tionghoa untuk mengintegrasikan dirinya dalam semua tingkat kegiatan Indonesia, sehingga aspirasi rakyat Indonesia menjadi aspirasi golongan Tionghoa. Mereka mempertegas bahwa untuk ini, suku Tionghoa, sama halnya dengan para suku lainnya, tidak perlu menanggalkan ke-Tionghoaannya, baik dari segi biologis maupun kebudayaan. Persatuan, bagi mereka, tidak berarti semua golongan yang ada dipaksa untuk meleburkan dirinya ke dalam tubuh pihak mayoritas.

Dengan sendirinya mereka menentang paham asimilasi yang dikembangkan pada awal tahun 1960-an. Pihak yang melahirkan konsep asimilasi menghendaki golongan Tionghoa menanggalkan atau mencampakkan ciri-ciri ke-Tionghoaan sehingga di suatu saat, golongan Tionghoa “lenyap” dari permukaan bumi Indonesia.

Usaha membangun bangsa – Nation Building, menurut Baperki, harus dikaitkan dengan kewarganegaraan Indonesia. Kewarganegaraan Indonesia-lah yang memberi makna hukum keberadaan Nasion Indonesia. Bilamana pengertian ini dihayati, Baperki berargumentasi, diskriminasi rasial tidak akan bisa dilegitimasikan, karena setiap Warga Negara Indonesia tentunya memiliki hak dan kewajiban yang sama. Kewarganegaraan Indonesia tidak mengenal asal usul keturunan, agama dan status sosial-nya.

Baperki juga berpendapat bahwa nasion Indonesia hanya bisa dikonsolidasi perwujudannya bilamana ia berkembang sebagai nasion yang makmur. Kemakmuran itu, menurut Baperki, hanya bisa dicapai bilamana Indonesia menempuh jalur sosialisme, di mana funds dan resources dikerahkan sepenuhnya untuk mempertinggi taraf hidup rakyat terbanyak.

Dalam konteks ini, Baperki mendesak pemerintah RI untuk mendukung setiap usaha pengembangan kegiatan dagang dan produksi domestik, tanpa mendiskriminasikan siapa pemilik modal domestik. Dengan sendirinya Baperki menentang setiap usaha sementara pemimpin pemerintah RI yang pada tahun 1950-an melakukan berbagai kebijakan yang menindas atau membatasi pengembangan modal milik pedagang-pedagang Tionghoa.

Situasi politik di masa hidup Baperki memang memungkinkan organisasi ini mengerahkan massa-nya untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik. Para pemimpinnya duduk di dalam badan-badan legislatif dan Yudikatif. Ketua umum- nya Siauw Giok Tjhan diketahui sangat dekat dengan para tokoh pemerintahan yang berpengaruh, sehingga banyak program Baperki pada zaman-zaman demokrasi parlementer (1954-1959) dan demokrasi terpimpin (1959-1965) masuk di dalam berbagai UU dan GBHN (garis Besar Haluan Negara).

Baperki belajar dari THHK. Kegiatan sosial harus dikaitkan dengan usaha dalam dunia pendidikan. Pada akhir tahun 1950-an, Baperki berhasil mendirikan dan menjalankan ratusan sekolah di berbagai kota besar. Usaha ini kemudian dilanjutkan dengan pendirian universitas di Jakarta, Surabaya, Semarang,Malang, Solo dan Medan.

Akan tetapi program pendidikan Baperki berbeda dengan apa yang dijalankan THHK. Kalau THHK banyak bersandar pada program pendidikan Tiongkok, Baperki menitik beratkan kurikulum nasional. Dan, Baperki mendorong pendidikan politik di sekolah-sekolahnya. Para siswa dan mahasiswa Baperki didorong untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan politik nasional untuk mempercepat proses Nation-Building.

Kegigihan Baperki dalam memperjuangkan proses Nation Building ini menyebabkan Presiden Soekarno berulangkali menyatakan bahwa Baperki adalah salah satu organisasi massa yang patut dijadikan teladan. Dan Baperki tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai organisasi massa Tionghoa yang paling berhasil dalam memobilisasi masyasrakat Tionghoa untuk menerima Indonesia sebagai tanah airnya.

Hancurnya kekuasaan Presiden Soekarno pada tahun 1966 diikuti dengan munculnya kekuatan baru, yang dipimpin oleh Jendral Soeharto, yang merajalela selama 32 tahun. Baperki-pun dibubarkan oleh kekuasaan Orde baru. Walaupun kekuasaan Orde Baru senantiasa mencanangkan slogan persatuan dan kesatuan bangsa, proses Nation Building yang dengan gigih diperjuangkan oleh Baperki secara sistimatis dihentikan. Bahkan perkataan Nation Building saja lenyap dari perbendaharaan kata politik.

Prospek di Masa Depan
Perkembangan politik belakangan ini cukup menyejukkan. Kehadiran GusDur didalam pemerintahan RI telah memungkinkan suku Tionghoa di Indonesia merayakan tahun baru Imlek -- tahun baru orang Tionghoa – secara terbuka untuk pertama kalinya dalam 32 tahun.

Perayaan-perayaan tahun baru Imlek pada bulan Februari 2000 di kota-kota besar Indonesia berjalan lancar. Untuk pertama kalinya dalam 32 tahun, masyarakat Indonesia bisa menikmati pertunjukan Liang Liong dan Barongsai secara besar-besaran. Yang mencolok, perayaan besar-besaran ini berlangsung tanpa kerusuhan, tanpa gangguan masyarakat. Yang lebih penting lagi, mereka jelas dinikmati oleh semua orang yang berpartisipasi, baik yang berasal dari suku Tionghoa maupun yang berasal dari berbagai suku lainnya.

Ini menunjukkan bahwa Rakyat Indonesia disamping memiliki toleransi terhadap berbagai perbedaan, juga menghargai adat istiadat serta kebiasaan yang dianut oleh suku-suku lainnya. Kelancaran perayaan-perayaan tersebut di atasjuga membuktikan bahwa benih-benih rasialisme yang melekat di dalam benak banyak orang – akibat kebijakan “divide and rule” penjajah Belanda --bisa dikesampingkan untuk mendemonstrasikan penghargaan terhadap berbagai perbedaan.

Ini juga membuktikan bahwa ledakan-ledakan rasialisme yang terjadi selama ini di”sulut” atau direkayasa oleh pihak-pihak yang menginginkan proses pembangunan bangsa – Nation Building – terhenti.

Memang sebaiknya kita tidak “menghidupkan” kembali perdebatan antara paham integrasi dan paham assimilasi. Yang penting adalah mengakui bahwa perbedaan di dalam tubuh bangsa Indonesia itu ada dan akan terus ada. Perbedaan tidak seharusnya dipaksa untuk lenyap, karena tindakan ini merupakan kelaliman yang patut dikutuk. Jalan keluarnya adalah memupuk keinginan untuk bahu membahu membangun Indonesia tanpa memusingkan latar belakang race, agama maupun aliran politik. Proses rekonsiliasi di bawah pimpinan GusDur, tampaknya berjalan, walaupun perlahan.

Perkembangan ini harus digunakan oleh para pejuang reformasi untuk “menggalakkan” dan mempercepat Nation Building sehingga bangsa Indonesia bisa kembali berkembang sebagai bangsa yang memiliki kekuatan dalam mengisi kemerdekaan dan mencapai kemakmuran yang diidam-idami.

Dipostingkan oleh indochinese@joymail.com, pada 25 Februari 2000

29 Juli 2007

Mari Belajar Swi-phoa (1)


Menguasai Matematika Tanpa Kalkulator



Wong Chin Na
wongchinna@hotmail.com,

UNTUK belajar Sipoa, atau swi-phoa, atau swan-phan, atau sempoa maka kita harus memegang alatnya, tidak bisa hanya dibayangkan saja. Sekarang di Indonesia ada swi-phoa sistem China, ada swi-phoa sistem Jepang. Yang akan saya bicarakan disini adalah swi-phoa sistem China. Kebetulan saya pernah mendalaminya sedikit.

Swi-phoa umumnya terdiri dari 13 atau 15 batang vertikal, di mana masing-masing batang terdiri dari 7 buah biji, 2 biji di bagian atas dan 5 biji di bagian bawah. Pada kayu pembagi horizontal, setiap 3 baris ada tanda, untuk memberikan tanda satuan, ribuan, jutaan, dst. Pada baris ketiga dari kanan biasanya ada tanda merah, untuk menunjukkan posisi satuan. Baris
pertama dan kedua untuk desimal (di belakang koma).

Untuk mudahnya, mulai baris ketiga dari kanan (tanda merah) ke arah kiri kita beri nomor urut 1, baris ke 4 = no.2, baris ke 5 = no.3, dan seterusnya. Baris kesatu dan kedua tidak usah diberi nomor.

Lima biji bawah nilainya = 1 biji di atasnya = 5 hitungan. Biji yang di bawah, berturut-turut dari no.1, 2, 3, 4, dst nilainya 1, 10, 100, 1.000 dst, Biji yang diatas nilainya 5, 50, 500, 5.000 dst. Lima biji bawah dapat dipertukarkan dengan 1 biji atas.

PENEMPATAN ANGKA.

Sekarang kita letakan di bagian bawah, mulai no.5 - 1 biji; no.4 - 2 biji; no.3 - 3 biji; no.2 - 4 biji dan no.1 - 5 biji.

Apa yang kita lihat di papan swi-phoa adalah angka 12.345 (dua belas ribu tiga ratus empat puluh lima). Untuk sementara desimal kita abaikan. Latihlah berulang kali sampai kita hafal cara menempatkan angka di papan swi-phoa. Tahap berikutnya kita coba untuk menempatkan angka 123.456.789 (seratus dua puluh tiga juta, empat ratus lima puluh enam ribu, tujuh ratus delapan puluh sembilan).

Letakan pada lajur no.9 s/d 5 berturut-turut : 1 biji; 2 biji; 3 biji; 4 biji; dan 5 biji. Semuanya biji yang ada di bagian bawah. Kemudian pada lajur no.4 letakan 1 biji di bagian atas + 1 biji di bagian bawah, nilainya = 6. Pada lajur no.3 letakan 1 biji di atas + 2 biji di bawah, nilainya = 7. Pada no.2 letakan 1 biji di atas + 3 biji di bawah, nilainya = 8. Pada no.1 letakan 1 biji di atas + 4 biji di bawah, nilainya = 9.

Apa yang tampak di papan swi-phoa adalah angka 123.456.789. Latihlah posisi ini berulang kali sampai kita hafal betul posisi angka-angka tsb dari satuan, puluhan, ratusan, dst. Ingat, posisi satuan, puluhan, ratusan, dan seterusnya sangatlah penting. Selanjutnya cobalah menempatkan angka di papan swi-phoa sekehendak hati anda sampai hafal betul, seperti anda menulis di kertas.


PENAMBAHAN.

Sekarang kita coba menjumlahkan : 123 + 234 = 357

Pertama tempatkan dahulu angka 123 seperti di atas. Kemudian tambahkan angka 234 pada posisi yang sesuai, langsung menambahkan biji-biji yang sudah ada di papan. Pada no.3 - 2 biji; no.2 - 3 biji dan no.1 - 4 biji. Maka di papan swi-phoa kita akan melihat angka 357.

Latihlah dengan angka-angka sendiri, cobalah ditulis dahulu di kertas. Untuk tahap pertama ambil angka-angka yang jika dijumlahkan tidak lebih dari 9. Setelah hafal cara ini, lanjutkan dengan angka-angka yang jika dijumlahkan lebih dari 9.

Sekarang kita coba menjumlahkan : 357 + 468 = 825.

Pertama tempatkan angka 357 seperti di atas. Kemudian tambahkan angka 468 pada posisi yang sesuai, sbb :

Untuk memasukan angka 4 (= 400).
Pada lajur no.3 tambahkan 4 biji, tapi biji yang ada di bawah hanya 2. Tambahkan 1 biji atas (5) dan membuang 1 biji bawah.

Untuk menambahkan angka 6 (= 60)
Pada lajur no.2 tambahkan 1 biji atas + 1 biji bawah, tapi biji bawah sudah habis. Tambahkan saja 2 biji atas (10) dan membuang 4 biji bawah. Sekarang di bagian atas ada 2 biji (10), nilainya sama dengan 1 biji bawah pada lajur no.3. Tukar 2 biji atas pada lajur 2 dengan 1 biji bawah pada lajur 3. Bisa juga dilakukan secara langsung dengan menambahkan 1 biji bawah pada lajur
no.3 dan membuang 4 biji bawah pada lajur no.2

Untuk menambahkan angka 8 (= 8)
Pada lajur no.1 tambahkan 1 biji atas + 3 biji bawah. Sekarang di bagian atas ada 2 biji (10), tukarkan dengan 1 biji bawah pada lajur no.2. Di bagian bawah ada 5 biji, tukarkan dengan 1 biji atas.

Apa yang nampak di papan swi-phoa adalah angka 825. Latihlah berulang kali sampai lancar. Lanjutkan dengan menjumlahkan ribuan, puluhan ribu, dst. sampai lancar benar. Selamat mencoba, semoga sukses !

Diposting pada 25 Februari 2000