28 Agustus 2007

Pengalaman Menakutkan Melancong di Malaysia


Hampir Saja Dipukuli Polisi

Budiman Bachtiar Harsa
boyharsa@yahoo.com

NAMA saya Budiman Bachtiar Harsa, 37 tahun, WNI asal Banten, karyawan di BUMN berkantor di Jakarta. Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, bukanlah kejadian pertama. Behubung sdr Donald adalah seorang "Tamu Negara" hingga kasusnya terexpose besar-besaran. Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia. Bukan hanya TKI atau pendatang haram, tetapi juga wisatawan.

Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, dua anak, adik ipar), untuk pertama kalinya kami "melancong" ke Kuala Lumpur Malaysia. Kami sudah pernah berwisata ke
negara2 lain, sudah biasa dengan berbagai aturan imigrasi.

Hari pertama dan kedua tour bersama Travel agent ke Genting Highland, berjalan lancar, kaluarga bahagia anak-anak gembira. Hari ketiga city tour di Kuala Lumpur (KL), ibukota Malaysia sebetulnya juga berjalan normal sampai pada malam harinya.

Malam harinya, kami mengunjungi KLCC yang ternyata sangat dekat dari Hotel Nikko, tempat kami menginap. Usai makan malam, berbelanja sedikit, adik ipar dan anak-anak saya pulang ke hotel karena kelelahan, menumpang shuttle service yang disediakan Nikko Hotel. Saya dan istri berniat berjalan-jalan, menikmati udara malam seperti yg biasa kami lakukan di Orchrad Singapore, toh kabarnya KL cukup aman.

Mengambil jalan memutar, pukul 22.30, di dekat HSC medical, lapangan dengan view cukup bagus ke arah Twin Tower.

Saat berjalan santai, tiba2 sebuah mobil Proton berhenti, dua pria berpakaian preman turun mendekati saya dan istri. Mereka tiba-tiba meminta identitas saya dan istri, saya balas bertanya apa mau mereka. Mereka bilang "Polis", seraya memperlihatkan kartu sekilas, lalu saya jelaskan bahwa saya turis, menginap di Nikko hotel.

Mereka tak peduli, bahkan memaksa meminta passport, yang tentu saja tidak saya bawa. Masak sih di negeri tetangga, sesama melayu, speak the same language, saya dan istri bisa berbahasa Inggris, negara yang tak butuh visa, kita masih harus bawa passport?

Salah satu "polis" ini bicara dengan HT, entah apa yg mereka katakan dengan logat melayunya, sementara seorang rekannya tetap memaksa saya mengeluarkan identitas. Perilaku mereka mulai tak sopan dan istri saya mulai ketakutan.

Saya buka dompet, keluarkan KTP. Sambil melotot, dia tanya : "Kerja ape kau disini?". Saya melongo... kan turis, wisata. "Ya jalan-jalan aja lah," begitu saya jawab. Saya kaget. Pak polis membentak dan mendekatkan mukanya ke wajah saya: "Kau kerja ape? Punya licence buat kerja tak?"

Wah, kali dia pikir saya TKI ilegal. Saya coba tetap tenang, saya bilang saya bekerja di Jakarta, ke KL untuk wisata. Tiba-tiba salah satu dari mereka mencoba memegang tas istri, dan bilang dengan membentak : "Mana kunci Hotel?"... Wah celakanya kunci kedua kamar kami dibawa anak dan ipar saya yang pulang duluan ke hotel.

Saya ajak mereka ke hotel yang tak jauh dari lokasi kami. Namun pak Polis malah makin marah, memegangi tangan saya, sambil bilang : "Indon... dont lie to us. Saya kurung kalian... kalau berani macam-macam !"

Jelas saya menolak dan mulai marah. Saya ajak mereka ke hotel Nikko, dan saya bilang akan tuntut mereka habis-habisan. Sambil memegangi tangan saya, tuan polis itu meludah kesamping, dan bilang : "Kalian semua sama saja... !"

Saat itu sebuah mobil polisi lainnya datang, pake logo polisi, seorang polisi berseragam endekat. Di dadanya tertulis nama: Rasheed.

Saya merapat ke pagar taman sambil memegang istri yang mulai menangis. Melawan tiga polis, tak mungkin. Saya bakal kalah. Mereka berbicara bertiga, mirip berunding. Wah, apa polis Malaysia juga sama aja seperti oknum di Indonesia, perlu mau nyari kesalahan orang ujung-ujungnya merampok?

Petugas berseragam lalu mendekati saya, meminta kami untuk tetap tenang. Saya bertanya, apa dua orang preman melayu itu polisi, lalu polisi berseragam itu mengiyakan. Rupanya karena saya mempertanyakan dirinya, sang preman marah dan mendekati saya, mencengkram leher jaket saya, dan siap memukul, namun dicegah polisi berseragam.

Polisi berseragam mengajak saya kembali ke Hotel untuk membuktikan identitas diri. saya langsung setuju, namun keberatan bila harus menumpang mobil polisi. Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun polisi preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata : "If those indon run, just shoot them..." katanya sambil menunjuk istri saya. Saya cuma bisa istighfar saat itu, ini rupanya begitulah nasib orang Indonesia di negeri tetangga yang sering kita banggakan sebagai "sesama melayu".

Diantar polisi berseragam saya tiba di Nikko Hotel. Saya minta resepsionis mencocokkan identitas kami, dan saya menelpon adik ipar untuk membawakan kunci. Pihak Nikko melarang adik saya, dan mengatakan kepada sang Polis, bahwa saya adalah tamu hotel mereka, WNI yang menyewa suites family, datang ke Malaysia dengan Business class pada Flight Malayasia Airlines.

Pak Polis preman mendadak ramah, mencoba menjelaskan bahwa di Malaysia mereka harus selalu waspada. Saya tak mau bicara apapun dan mengatakan bahwa saya sangat tersinggung, dan akan mengadukan kasus ini, dan "membatalkan rencana bisnis dengan sejumlah rekan di
malaysia" (padahal saya tak punya rekan bisnis di negeri sial ini).

Polisi berseragam berusaha tersenyum semanis mungkin, berusaha keras untuk akrab dan ramah, petugas Nikko Hotel kelimpungan dan berusaha membuat kami tersenyum. Setelah istri saya mulai tenang, saya mengambil HP P9901 saya dan merekam wajah kedua polisi ini. Keduanya berusaha menutupi wajah, meminta saya untuk tidak merekam wajah mereka.

Istri saya minta kita mengakhiri konflik ini, dan sayapun lelah. Kami tinggalkan melayu-melayu keparat ini, tanpa berjabat tangan. Sepanjang malam saya sangat gusar, dan esoknya kami
membatalkan tur ke Johor baru, mengontak travel agent agar mencari seat ke Singapore. Siang usai makan siang, saya tinggalkan Malaysia dengan perasaan dongkol, dan melanjutkan liburan di Singapore.

Mungkin nasib saya sial? Ya. Mungkin saya hanya 1 dari 1000 WNI yang apes di Malaysia? bisa. Tapi saya catat bahwa bila saya pernah dihina, diancam, bahkan hampir dipukuli, bukan tak mungkin masih ada orang lain mengalami hal yg sama.

Jadi, kalau hendak berlibur di Malaysia, sebaiknya pikir masak2. Jangankan turis, Rombongan atlet saja bisa dihajar polisi Malaysia. Bayangkan bila perlakuan seperti ini dilakukan dihadapan anak kita. Tentu anak akan trauma, sekaligus sedih. Hati-hati pada promosi wisata Malaysia. Di Malaysia, WNI diperlakukan seperti Kriminal.

26 Agustus 2007

Ketika Mata kuliah Agama Buddha tidak tercantum


Oleh : Eva Yulianti
beranusa@yahoo.com

BEBERAPA hari ini adalah hari yang cukup membuat saya sibuk ber SMS, dengan Dosen Pembimbing saya, Ibu Nunung atau Ibu Wirdyaningsih, Selain setelah beberapa hari yang lalu bolak-balik Depok, untuk Daftar ulang, dan mengikuti Pengenalan Studi dan Lingkungan Akademik ( PSLA ) di FHUI.

Di UI, saya harus melakukan Registrasi Administrasi yang dilakukan secara host to host di Bank BNI, dan Registrasi Akademik, dengan Prosedur secara On line yang mana setiap Mahasiswa harus mengisi IRS ( Isian Rencana Studi ) dan harus disetujui oleh Dosen Pembimbing Akademik dari masing-masing kelompok yang terdiri dari 15 org Mahasiswa.

Untuk Registrasi Akademik di lakukan di SIAK NG ( Sistem Informasi AKademik New Generation ), yang mana setiap mahasiswa sudah mendapat Login Name dan Passwordnya yang berlaku setiap 6 bulan sekali dan harus diperpanjang cukup dengan ganti password saja.

Berhubung dalam Semester Gasal ini, saya hanya bisa mengisi 13 SKS ( Satuan Kredit Semester ) , buat mengurangi beban SKS saya berniat mengambil Mata Kuliah( MK) Agama, namun sayang sekali MK Agama Buddha tidak ada dalam Daftar IRS ( Isian Rencana Studi ), berhubung nggak ada saya pikir sebagai bahan kelak mempelajari Hukum Islam, maka saya berniat mengambil MK Agama Islam.

Akhirnya sayapun mengisi IRS saya dengan mencantumkan Agama Islam dalam IRS saya, jadi SKS yang saya ambil sebanyak 15 SKS, kemudian sayapun menghubungi Pembimbing akademik ( PA ) untuk minta di approve IRS nya, melalui SMS sayapun mengatakan berhubung MK Agama Buddha tidak ada dalam daftar IRS, maka saya mengambil MK Agama Islam.

Tak lama PA saya membalas SMS saya " Bahwa untuk mengikuti MK Agama, harus sesuai dengan keyakinan yang dianut. " maka Dosen PA saya, Ibu Nunung meminta waktu untuk mencari tahu bagaimana cara, agar saya dapat mengikuti MK Agama Buddha.

Akhirnya Ibu Nunung memberitahu kepada saya, berhubung di FHUI Ekstensi hanya saya sendiri yang beragama Buddha, maka MK Agama Buddha bisa diikuti melalui perkuliahan lintas Fakultas, yang biasa diadakan di Fakultas Tehnik, dengan syarat harus mengajukan prosedur ke Sekretariat Pendidikan Ekstensi FHUI.

Senang sekali rasanya mendengar Jawaban PA saya, akhirnya sayapun menelpon ke Bag. sekretariat, dengan Pak Indra, dari Pak Indra diberitahu bahwa yang mengurus hal tersebut adalah Ibu Komala Dewi, karena dulu sekali ada juga satu-satunya mahasiswa FH yang beragama Buddha ( Dan sekarang baru ada lagi yaitu saya.. he...he...he.

..), dan Bu Dewi baru ada di Tempat Besok, saking bawelnya saya, sampai sampai Operator yang terima telpon pas tanya dari siapa , saya jawab dari Eva , langsung Operatornya jawab " Oh ini Mbak Eva yang Agama Buddha Ya... sebentar ya Mbak, wah... senang sekali rasanya saya banyak yang membantu.

Hari ini Via Telpon saya berbicara dengan Ibu Komala Dewi, dari beliau saya diberi no telpon Dosen Agama Buddha, Yaitu Bapak Ir. Ariya Chandra, yang tak lain Beliau adalah Pandita Agama Buddha, yang juga dulu sering saya temui di Vihara Dhammacakka Jaya Sunter.


sayapun langsung menelpon Bapak Ariya Chandra, dan memperkenalkan diri dan menceritakan Perihal MK Agama Buddha yang tidak ada dalam IRS, jadi saya harus mengikuti melalui Lintas Fakultas, dari Pak Ariya saya memperoleh keterangan jika ada sesuatu yang kurang jelas bisa ditanyakan di Rektorat bidang MKU , dan saya juga di beri web nya KMBUI ( Keluarga Mahasiswa Buddhis Universitas Indonesia ).

Setelah selesai berbicara dengan Pak Ariya, sayapun langsung menelpon kembali Ibu Dewi, dan, Jawaban Bu Dewi adalah " Mbak Eva, sekarang juga mbak buka di SIAK NG, Di Daftar Isian Rencana Studi ( IRS ) sudah ada Mata Kuliah Agama Buddha. "


Luar Biasa Tanggap sekali FHUI, hanya dalam hitungan 1 setengah hari saja, MK Agama Buddha sudah langsung tercantum di daftar Mata Kuliah lengkap dengan nama Dosen dan jam perkuliahannya juga kelasnya yaitu di FHUI ruang c 303.

Saya langsung menelpon kembali Pak Ariya: " Pak Ariya, Nammo Buddhaya, MK Agama Buddha sudah tercantum di IRS, dan berada di urutan pertama mata Kuliah. "

Wah UI memang hebat euy, wah... rasanya akan menyesal kalau saya tidak bisa mengikuti perkuliahan dengan baik.

Jadi... Selesailah administrasi Akademik saya hari ini, dan sudah di approve oleh Dosen Pembimbing akademik saya....

Terima kasih yaa... Bapak, Ibu..Di Sekretariat Fakultas Hukum pendidikan Ekstensi UI, itulah telpon saya hari ini.. Juga kepada Bapak Ir. Ariya Chandra.

Diposting di milis tionghoa-net pada 22 Agustus 2007


07 Agustus 2007

Mari Belajar Swi-phoa (2)


PENGURANGAN

Prinsip pengurangan hampir sama dengan penjumlahan. Kalau dalam penjumlahan angka penambah ditambahkan langsung pada biji-biji angka awal, dalam pengurangan angka pengurang langsung diambil dari biji-biji yang ada pada angka awal. Sekarang kita coba mengurangkan : 357 - 123 = 234 dengan menggunakan Swi-Phoa.

Pertama tempatkan dahulu angka 357 seperti di atas. Kemudian kurangkan angka .123 pada posisi yang sesuai, langsung membuang biji-biji yang sudah ada di papan. Pada lajur 3 - 1 biji; lajur 2 - 2 biji dan lajur 1 - 3 biji. Maka di papan swi-phoa kita akan melihat angka 234.

Latihlah terus dengan angka-angka yang pengurangnya tidak lebih besar dari angka-angka awal. Setelah hafal dapat dilanjutkan dengan angka berapa saja, asal hasilnya jangan negatif. Untuk sementara kita abaikan pengurangan yang hasilnya negatif. Sekarang kita coba menjumlahkan : 557 - 468 = 89.

Pertama tempatkan angka 557 seperti di atas. Kemudian kurangkan angka 468 dengan membuang biji-biji pada posisi yang sesuai. Untuk mengurangkan angka 4 (= 400). Pada lajur no.3 ada 5 biji di bawah (atau 1 biji atas). Buang 4 biji bawah, sehingga tersisa 1 biji bawah. Kalau semula yang dipakai 1 biji atas, buang 1 biji atas (5) tambahkan 1 biji bawah.

Untuk mengurangkan angka 6 (= 60). Pada lajur 2 hanya ada 5 biji bawah (atau 1 biji atas), sedang yang harus dibuang 6 biji. Tukarkan dahulu 1 biji bawah pada lajur 3 dengan 2 biji atas (kalau semula memakai 1 biji atas, gunakan 1 biji atas + 5 biji bawah). Sekarang di lajur 2 semua biji terpakai, 2 biji atas dan 5 biji bawah. Untuk membuang 6 biji, buang 1 biji atas dan 1 biji bawah, sehingga di lajur 2 tersisa 1 biji atas dan 4 biji bawah.

Untuk yang sudah lancar bisa secara langsung, membuang 1 biji bawah pada lajur 3 (10) dan menambahkan 4 biji bawah pada lajur 2. Di lajur 2 akan tersisa 1 biji atas dan 4 biji bawah. Hasilnya sama saja. Di lajur 3 sekarang tidak ada lagi biji yang tersisa.

Untuk mengurangkan angka 8 (= 8). Pada lajur 1 hanya ada 1 biji atas dan 2 biji bawah, sedang yang harus dibuang 8 biji. Untuk menukarkan dahulu 1 biji bawah pada lajur 2 dengan 2 biji atas pada lajur 1 tidak bisa, karena biji yang tersisa di lajur 1 tidak cukup.

Jadi harus dipakai cara langsung, membuang 1 biji bawah pada lajur 2 (10) dan menambahkan 2 biji bawah pada lajur 1. Di lajur 1 akan tersisa 1 biji atas dan 4 biji bawah. Di lajur 2 yang semula ada 1 biji atas + 4 biji bawah, sekarang hanya tersisa 1 biji atas + 3 biji bawah. Setelah pengurangan ini di papan swie-phoa akan tampak angka 89.

Latihlah berulang kali sampai lancar benar.

Posting #1.561 pada 4 Maret 2000 oleh Wong Chin Na