22 Juli 2007

Bhinneka Bahasa, Bhinneka Bangsa

Bhinneka Bahasa, Bhinneka Bangsa

Oleh : Abdullah Hasan dan Iwan Samariansyah

HARI-hari ini, bangsa kita tampaknya perlu merenung panjang. Setelah kita putuskan memberi kesempatan pada komunitas manusia di ujung timur Pulau Timor untuk mendirikan negara sendiri, kini kita dihadapkan pada tuntutan yang semakin mengeras di berbagai sudut provinsi tanah air. Di ujung barat Pulau Sumatera khususnya di Aceh, ribuan orang Aceh meminta
referendum, meminta tanah air sendiri.

Di tengah kepulauan, tepatnya di Makassar, ribuan mahasiswa berpawai mendeklarasikan Sulawesi Merdeka. Dan di ujung utara pulau yang sama, tepatnya di Manado, nada-nada
ketidakpuasan semakin santer terdengar. Dan masalah-masalah lama di Irian Jaya dan Maluku dan tentu saja Riau masih saja terus menghantui kita semua.

Siapa "kita" ini ? Siapa sebetulnya bangsa Indonesia itu ? Dan bagaimana seharusnya sikap "kita" mencermati persoalan-persoalan tersebut ? Mencari kembali identitas diri bangsa. Kurang lebih seperti itulah yang terjadi sekarang. Puluhan tahun berbagai komunitas bangsa merasa haknya diambil entah oleh siapa. Revolusi dahsyat telah mengembalikan berbagai hal kepada kita. Kita sekarang bisa bicara, bisa tidak setuju, bisa marah, bisa ngambeg.

Boleh berpikir dewasa, boleh pula ngawur. Boleh bergerombol, boleh menyendiri. Dalam sekejap yang semula solid sewarna jadi mosaik. Masing-masing molekul bangsa menyalakan garis batas terang pada sekeliling.

Apa urusan anda? Tiba-tiba ada semacam kekuatan menantang bisa keluar terhadap sorot keberatan ketika kita sedang ngomong Jawa. Atau ketika pakai sarung dan kopiah haji. Demikian pula dari bagian mosaik lain muncul kesadaran yang sama. Kesadaran akan hak. Kesadaran baru pada kebhinnekaan. Pengalaman riil memaksa kita untuk menghayati Kebhinekaan yang baru kita ketahui sebatas slogan.

Mulai dari jumlah partai yang membuat "kepala seragam" kita puyeng. Sampai pada kesulitan kita melihat kenyataan perbedaan pandangan diluar punya kita. Dengan mengambil contoh ekstrim: Kok Golkar bisa mendapat 20 % ?! Kok sirik ya pada Amien Rais ? Kok ada yang tidak suka Megawati ? Kesulitan-kesulitan semacam itu seringkali menyesatkan. Kita masih sering memaksa melihat "rakyat" sebagai rakyat. Molekul mosaik milik kita sebagai keseluruhan.

Kalau tidak keliru, kita menangkap kita menangkap nuansa untuk berbeda dalam konteks kesadaran baru itu. Malahan lebih jauh, bukan sebatas bahasa kita bhinneka malahan dalam bangsa. Artinya kita ini terdiri dari bermacam suku -- bahkan bangsa -- yang karakter dasarnya bisa jadi amat berbeda.

Seyogyanya kita harus segera menuju pemahaman kepada antar bahasa yang lebih dalam. Maksudnya menuju pemahaman antar (suku) bangsa yang lebih dalam. Penghayatan yang lebih dalam pada bhinneka tersebut. Tentunya penghayatan pada kebhinnekaan bukan berarti menuju peleburan. Orang Jawa tidak mungkin jadi Sunda. Orang Bali tidak akan
jadi China atau Bugis. Demikian seterusnya. Batak tetap Batak. Orang Banjar tetap orang Banjar, dengan segala adat istiadatnya.

Buat apa semua pemahaman itu? Secara cepat, secara "slogan" mungkin kita akan berkata : menuju persatuan bangsa ! Tapi mungkin ada yang mesti diisi dulu. Ada sesuatu yang terputus antara pemahaman sampai persatuan. Sebagian besar diantara kita belum bisa makan cukup, belum punya teduhan yang manusiawi. Atau punya ketenangan kepastian pendapatan. Apalagi soal seperti pendidikan atau kesehatan. Kebutuhan persatuan bangsa yang hakiki adalah kebutuhaan rasionil tingkat lanjutan.

Ekstrimnya, kebutuhan akan Eropa Bersatu baru mengental setelah kemakmuran tingkat tinggi tercapai diantara negara-negara bagiannya. Tidak usah sejauh itu. Tapi apakah hal itu bisa dicapai ketika sebagian besar bangsa-bangsa kita masih hidup amat melarat. Tingkat kehidupan
yang amat tidak pantas diterima oleh species manusia saat ini. Millenium Baru ! ?

Pengakuan existensi masing-masing molekul bangsa. Penghargaan pada kemanusiaan. Menghilangkan segala rintangan untuk mengatur kehidupan sendiri. Dorongan dan support kegiatan ekonomi yang sehat. Peningkatan kesejahteraan. Percepatan peningkatan kwalitas dan kwantitas pendidikan nasional untuk mencerdaskan bangsa. Hal-hal seperti itu mungkin akan
mempercepat kelahiran kebutuhan persatuan secara alami.

Untuk sementara, meskipun semu, persatuan yang ada, haruslah dengan sabar dijaga sejauh
mungkin. Bila kebutuhan tiba, jangan sampai kita sudah tidak punya apa-apa. Apakah begitu ya?

Jakarta, 8 November 1999,
Dua hari Menjelang Hari Pahlawan