24 Juli 2007

Renungan Millenium

Selamat Tahun Baru 2000

Grifa Libran
(winale@qatar.net.qa)

MAJALAH TIME edisi 27 Desember tahun lalu pada satu kolom kecil menulis hasil survey pembaca mengenai nama/sebutan apa yang cocok untuk menyebut tahun 2000 sekarang. Hasilnya ialah seperti berikut ini:

The O-zies
M2
The Twenty Hundreds
The Naughties
The Milles
The Oh-Ohs

dan banyak lagi lainnya sebutan untuk dekade 2000 hingga 2009 yang tidak disebutkan.
Karena angka 2000 demikian simpel dan kelihatan harmonis struktur susunan urutan angkanya, banyak orang berasumsi pastilah tahun ini memiliki keistimewaan.

Setidaknya siapa saja yang melihat angka ini akan senang meski tidak tahu mengapa hingga bisa timbul rasa senang. Makanya karena dorongan faktor psikologis ini orang banyak latah untuk turut antusias dan kadang demikian histeris cara mereka menyambutnya. Ungkapan perasaan gembira yang rada aneh dibanding kemungkinan saat menghadapi kelahiran seorang bayi idaman.

Karena latah itu, kali ini juga saya sempat mengucapkan pada beberapa handai taulan dan rekan akan harapan kegembiraan di tahun The O-zies ini. Tidak pada semua rekan dan sahabat sempat saya kirimi ucapan dan bahkan saudara kandung sendiri tidak. Sebaliknya setelah mengirim kata selamat ber-Y2K saya kok malah timbul penyesalan.

Ada semacam kesadaran bahwa pengucapan selamat itu sebetulnya tidak untuk suatu alasan apapun, sesuatu hal yang sejak lama sebetulnya saya sadari dan makanya saya lebih sering dalam pergantian tahun tidak ambil pusing dengan makna-makna tahun baru.

Kalau kita mengucapkan (mendoakan) selamat pada seseorang atas peristiwa tertentu (mis: kelahiran bayi, menikah, dapat promosi, lebaran ataupun natal) itu kita tahu karena pada hari itu kita berharap orang bisa berbahagia dan sejahtera karena moment yang dihadapi (bahagia karena mendapat bayi, bebahagia karena menikah, berbahgia karena dapat promosi jabatan, dan seterusnya).

Demikian juga kelogisan kita menyebut "Selamat Lebaran" atau "Merry Christmas" sebab kita menginginkan kebahagiaan dan kegembiraan di hari Lebaran setelah usai menjalani ibadaah ramadan atau karena di hari peringatan Natal kita berharap nuansa yang ada membawa berkah sehingga kita bahagia karenanya.

Tapi tahun baru? Ada yang aneh kalau pada setiap pergantian bilangan tahun baru timbul kesadaran untuk berkaca diri dan oleh karena itu mengharap hidup ini menjadi lebih baik sehingga pada setiap orang kita merucap : 'Met tahun baru! Tahun baru itu tidak ada istimewanya sebetulnya, ia cuma sebatas angka dan perjalanan waktu. Segala sesuatu yang ada di antaranya pada hakekatnya sama.

Sehari 24 jam dan dalam satu jam itu sama banyaknya dengan 60 menit di mana keadaan ini sudah berlangsung sebelumnya berulang-ulang. Bilamana ingin berhadapan dengan kondisi baik dan bahagia dalam hidup, mengapa tahun baru menjadi indikator garis startnya? Tidakkah sebenarnya pada setiap tarikan nafas manusia membutuhkan keadaan sejahtera dan batin?

Lagipula tidakkah setiap tanggal atau bilangan berapapun sesungguhnya tanggal dan bilangan tahun itu tidak dan sama sekali bukan kunci, apalagi penentu kesuksesan hidup manusia? Selamat Tahun Baru adalah kalimat yang tidak jelas apa dan sampai di mana maksud yang tersimpan. Apakah itu bermaksud Selamat bergembira di tahun baru? atau apakah makna
yang terkandung Semoga selamat karena tahun baru telah tiba? (malah lebih aneh lagi arti kalimat ini) atau pun barangkali berarti 'Berikan selamat pada tahun yang baru?'

Ketiga maksud yang bisa mungkin dari kalimat 'Selamat Tahun Baru' di atas dapat berakhir pada pengertian yang serba tidak relevan dan realistik dilihat dari harapan dan karakter manusia itu sendiri. Bahwa hidup sejahtera dan bahagia itu tidak mesti diharap setelah terjadinya pergantian angka tahun.

Kita butuh sehari2 penuh bahagia. Sama sekali tak ada hubungannya apa yang menjadi harapan dengan bergantinya sang waktu, dengan kata lain nasib baik dan buruk itu bukan ditentukan waktu. Apakah keselamatan itu kita harapkan hanya karena tahun yang baru telah tiba? Atau kita memberi selamat pada tahun yang juga sudah berganti? Apakah tahun bisa mendengar
apa yang kita bilang? Memangnya makhluk apakah tahun itu?

Diposting pada 1 Januari 2000

2 komentar:

register281id555 mengatakan...

dengan hormat,

Saya bingung, Sebenarnya siapa sih yang diskriminatif? Pribumi atau China keturunan?

Saya jadi kasihan Melihat Kejadian2 dibawah ini:

-pembunuhan di Batavia pada tahun 1740;
-pembunuhan pada masa Perang Jawa antara tahun-tahun 1825-1930;
-pembunuhan beramai-ramai di Jawa pada tahun-tahun 1946-1948;
-peristiwa ras pada 10 Mei 1963 dan 5 Ogos 1973;
-Malari pada 1974; dan
-Rusuhan Mei 1998.

semoga kejadian mengerikan tidak terulang lagi.

Saya menyarankan kepada orang Non pribumi yang membaca posting ini agar :

1. Perbanyak Anak perempuan anda saudara perempuan anda nikah dengan orang pribumi, sehingga pembauran benar-benar murni.

2. Seperti Dikutip di blog anda, jangan sekali-kali berbahasa thionghoa walaupun anda kesal atau dendam dengan bahasa daerah orang pribumi. karena kesan yang diterima jika mendengar orang non pribumi berbahasa thionghoa seakan "ini bisnis khusus orang china, jangan sampai di dengan orang pribumi"

3. Perbanyak pengemis orang china indonesia di jalanan sehingga orang pribumi bisa merasa percaya diri.

4. Banyak-banyaklah orang china keturunan menjadi anak buah orang pribumi.

5. Perbanyak Orang China Keturunan menjadi orang miskin.

Jika hal tersebut di atas tidak mungkin terjadi, maka kejadian mengerikan ada kemungkinan terulang lagi. Sebaiknya anda selalu siap siaga kabur ke luar negeri saja, kasihan anak keturunan anda.

Untuk orang pribumi saya sarankan:

1. Jika anda merasa dirugikan oleh orang china keturunan, pelecehan, dicurangi, direkam saja kemudian laporkan biar ditindak tegas sesuai hukum yg berlaku.

2. Berjuanglah dan percaya diri untuk kehidupan lebih baik, jangan gunakan pepatah2 china gunakan pepatah2 orang barat yang universal dan demokratif dan benar untuk sementara.


Ditulis Oleh:
Simpatisan

register281id555 mengatakan...

Sory Salah beri kometar harusnya untuk komentar

"Akar Masalah Sentimen Anti China (5-habis)"
trim